Dari Impian Menjadi Kenyataan: Kisah Inspiratif Dosen Fakultas Psikologi, Erlina Anggraini
Sumber foto: Dokumen pribadi
Menempuh pendidikan di luar negeri adalah impian banyak orang, sayangnya tak semua orang dapat mewujudkannya. Erlina Anggraini, S.Psi.I., M,Ed., dosen Fakutas Psikologi UNESA, adalah salah satu di antara mereka yang menbuktikan bahwa tekad, kesabaran, dan keberanian akan mewujudkan impian kita. Perjalanannya menempuh studi magister Developmental and Educational Psychology di Notheast Normal University, China, menjadi kisah inspiratif.
Keinginan
Erlina untuk melanjutkan studi ke luar negeri tumbuh sejak masa kuliah S1 di
UIN Walisongo Semarang. Selama tinggal di Ma’had, ia sering mendapatkan
dorongan untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin. Pesan tersebut melekat
kuat dalam dirinya, terlebih dengan dukungan para dosen yang selalu menguatkan
langkahnya. Setelah lulus, Erlina aktif mencari peluang beasiswa ke berbagai
negara. Meskipun sempat memperoleh LoA dari Monash University Australia,
kesempatan beasiswa belum berpihak. Hingga suatu ketika beliau mendapatkan
informasi mengenai beasiswa ASEAN
University Network (AUN) untuk studi magister di China. Tanpa harapan
besar beliau pun mencoba mendaftar dan tak disangka pintu kesempatan terbuka. Pada
2 Agustus 2017, Erlina dinyatakan resmi diterima sebagai penerima beasiswa S2
di Northeast Normal University.
Perjalanan
menuju China penuh tantangan. Berangkat tanpa kemampuan bahasa Mandarin manjadi
tantangan terberatnya. Erlina sempat kebingungan saat naik taksi dari bandara
karena sopir tidak memahami tujuannya. Barulah setelah menunjukkan foto
universitas sang supir memahaminya. Dari pengalaman itu, Erlina belajar bahwa
ketenangan, keberanian untuk bertanya, dan kesiapan beradaptasi adalah bekal
penting ketika berada di negara asing. Syukurlah, begitu tiba di kampus, ia
disambut hangat oleh para senior dan mahasiswa Indonesia lainnya, membuat
proses adaptasi awal menjadi jauh lebih ringan.
Tantangan
lain muncul dari iklim dan budaya setempat. Kota Changchun dikenal memiliki
musim dingin ekstrem hingga –35°C. Erlina menceritakan bagaimana angin dingin
membuat langkahnya terasa berat dan bagaimana bulu matanya membeku ketika di
luar ruangan. Selain itu, durasi berpuasa lebih panjang ditambah jarak masjid
yang jauh hingga membuat Erlina sering salat di taman. Semua tantangan itu semakin
memperberat aktivitasnya di sana. Meskipun tidak mudah, pengalaman-pengalaman
itu membentuk ketangguhan dan cara pandangnya terhadap hidup mandiri di negeri
orang.
Di
balik tantangan tersebut, kehidupan di China menjadi pengalaman yang sangat
berharga. Erlina begitu kagum melihat etos belajar mahasiswa yang begitu
tinggi. Perpustakaan selalu ramai bahkan sebelum jam buka dan budaya belajar
berjam-jam setiap hari menjadi hal yang lumrah. Mahasiswa juga didorong untuk
aktif dalam penelitian sejak awal semester dan memberikan laporan perkembangan
secara berkala.
Salah
satu kenangan yang paling berkesan baginya adalah hubungan hangat antara
mahasiswa dan profesor. Para profesor kerap mengundang mahasiswa untuk minum
teh, memasak, dan makan bersama, menciptakan suasana kekeluargaan yang
mendukung proses belajar. Ketika pandemi melanda, salah satu profesor
mengirimkan buket bunga sebagai bentuk perhatian dan semangat. Dukungan komunitas
mahasiswa internasional dan mahasiswa Indonesia juga menjadi bagian penting
yang membuat masa studinya semakin bermakna.
Di akhir kisahnya, Erlina menyampaikan beberapa pesan bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri. Erlina menekankan pentingnya persiapan bahasa, dokumen akademik, dan portofolio riset. Selain itu, kesiapan mental juga menjadi faktor utama mulai dari menghadapi perbedaan budaya, hidup mandiri, hingga bangkit dari kegagalan. Erlina meyakini bahwa kemampuan menjaga sikap, membangun hubungan baik dengan lingkungan sekitar, serta memiliki support system yang sehat adalah kunci untuk bertahan dan berkembang di mana pun.