Dukung Kesejahteraan Mahasiswa Difabel, Fakultas Psikologi UNESA Gelar Pelatihan Peer Counselor
SURABAYA – Fakultas
Psikologi Universitas Negeri Surabaya (UNESA) bersama SaPPA-ABK menggelar hari
pertama Pelatihan Peer Counselor bertajuk "Connect & Care: Building an
Inclusive Campus through Peer Counseling" pada Jumat (28/8/2026) di Kelas
Q1.01.09, Gedung Olahraga Terpadu Fakultas Psikologi UNESA.
Pelatihan ini digagas
untuk mencetak peer counselor yang mampu memberikan dukungan emosional,
pendampingan, dan bantuan bagi mahasiswa difabel dalam menghadapi berbagai
tantangan, baik dari sisi akademik, sosial, maupun penyesuaian diri di
lingkungan kampus. Lewat pelatihan ini, peserta diajak mengasah empati,
memahami kebutuhan individu, dan membangun komunikasi yang suportif demi
mewujudkan kampus yang lebih inklusif, aman, dan ramah bagi semua.
Rangkaian hari pertama
dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan, Mars Unesa, dan Hymne Psikologi,
disusul laporan dari Ketua Pelaksana serta sambutan Ketua Task Force. Sambutan
turut disampaikan oleh Onny Fransinata Anggara, S.Psi., M.Psi., Psikolog,
selaku Wakil Dekan II Bidang Umum dan Keuangan Fakultas Psikologi UNESA.
Memasuki sesi materi, Bu Ribka Mutiara Simatupang, M.Psi., Psikolog, membawakan
materi pertama seputar Konseling Umum, yang disambut antusias lewat sesi tanya
jawab dan pengerjaan resume oleh para peserta.
Usai ISHOMA, suasana
kembali cair lewat sesi ice breaking, sebelum peserta masuk ke materi kedua
bertema Psychological First Aid (PFA) bersama Bu Fitrania Maghfiroh, M.Psi.,
Psikolog. Diskusi berlangsung hangat lewat sesi tanya jawab, dan hari pertama
pun ditutup dengan pengerjaan resume serta dokumentasi bersama.
Pelatihan Peer Counselor
akan berlanjut pada hari kedua, Sabtu (29/8/2026), dengan materi Konseling
Khusus dan sesi praktik langsung melalui roleplay.
Kegiatan ini turut
selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4
(Pendidikan Bermutu) melalui pembekalan keterampilan konseling sebaya bagi
mahasiswa, SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan) dengan mendorong terciptanya
lingkungan kampus yang inklusif bagi mahasiswa difabel, serta SDG 3 (Kehidupan
Sehat dan Sejahtera) melalui dukungan terhadap kesejahteraan emosional dan
kesehatan mental mahasiswa.