Ketika Uang Kehilangan Kompas Moral: Membaca Al-Ghazali melalui Psikologi Ekonomi
Video Al-Ghazali: The Thinker Who Linked Money to Morality tidak langsung membicarakan uang sebagai alat transaksi, tetapi membuka pembahasannya dengan keadaan dunia Islam sekitar tahun 1100 M. Ketika kota-kota berkembang, perdagangan meluas, dan kekayaan bertambah, Al-Ghazali digambarkan mengajukan pertanyaan mendasar: apa yang terjadi ketika masyarakat menjadi kaya lebih cepat daripada menjadi bijaksana? Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami bahwa kemajuan ekonomi tidak selalu diikuti kematangan moral. Kajian Ghazanfar dan Islahi (2011) menguatkan bahwa pemikiran ekonomi Al-Ghazali memang ditempatkan dalam kerangka kesejahteraan manusia, keadilan, kerja sama, dan tanggung jawab sosial.
Dari persoalan peradaban tersebut, video kemudian membahas uang sebagai “cermin”, bukan sebagai tujuan. Uang tidak menghasilkan makanan, pakaian, atau tempat tinggal dengan sendirinya, tetapi membantu manusia mengukur nilai dan mempertukarkan berbagai kebutuhan. Islahi (2001) menjelaskan bahwa Al-Ghazali telah memahami fungsi uang sebagai satuan nilai dan perantara pertukaran untuk mengatasi kesulitan sistem barter. Karena itu, nilai utama uang tidak hanya terletak pada material emas atau peraknya, tetapi pada fungsi dan kepercayaan yang memungkinkan masyarakat menggunakannya. Ketika uang berubah dari alat menjadi tujuan akhir, manusia berisiko menilai keberhasilan, keamanan, bahkan harga dirinya hanya berdasarkan jumlah kekayaan yang dimiliki.
Karena fungsi uang adalah memperlancar pertukaran, video menyebut kekayaan yang ditimbun sebagai “uang mati”. Uang yang hanya disimpan tanpa tujuan yang jelas tidak membiayai produksi, membuka pekerjaan, atau membantu memenuhi kebutuhan masyarakat. Kajian Islahi (2001) mengonfirmasi bahwa Al-Ghazali mengecam penimbunan uang karena membuatnya menyimpang dari fungsi dasarnya. Ghazanfar dan Islahi (2011) juga mencatat kritik Al-Ghazali terhadap penimbunan bahan pokok yang sengaja dilakukan untuk menciptakan kelangkaan dan menaikkan harga. Dalam konteks video ini, hoarding bukan berarti gangguan menimbun secara klinis, melainkan tindakan menahan kekayaan dari peredaran demi memperoleh rasa aman atau keuntungan yang lebih besar.
Dari penimbunan, pembahasan video bergerak menuju spekulasi dan manipulasi pasar. Al-Ghazali tidak digambarkan sebagai tokoh yang menolak perdagangan atau keuntungan, tetapi menolak keuntungan yang dibangun melalui penipuan, informasi yang disembunyikan, manipulasi harga, dan eksploitasi terhadap masyarakat yang sedang mengalami krisis. Ghazanfar dan Islahi (2011) menunjukkan bahwa Al-Ghazali menekankan kejujuran dalam transaksi serta menentang iklan menyesatkan, kecurangan, perjudian, dan pengendalian pasar secara manipulatif. Intuisi ini sejalan dengan teori information asymmetry Akerlof (1970): ketika penjual memiliki informasi yang tidak dimiliki pembeli dan memanfaatkannya secara oportunistis, kepercayaan menurun, produk berkualitas tersingkir, dan pasar bahkan dapat gagal berfungsi.
Agar kritik tersebut tidak disalahartikan sebagai sikap antikekayaan, video selanjutnya menekankan tanggung jawab yang menyertai kepemilikan harta. Al-Ghazali menghargai perdagangan, pekerjaan, produksi, dan pembagian kerja selama semuanya memberikan manfaat nyata. Ghazanfar dan Islahi (2011) menjelaskan bahwa produksi dan penyediaan kebutuhan masyarakat dipandang sebagai kewajiban sosial, sedangkan kerja sama menjadi fondasi aktivitas ekonomi. Dengan demikian, kekayaan yang sehat bukan sekadar kekayaan yang berhasil dikumpulkan, tetapi yang diperoleh secara halal, digunakan secara proporsional, dan menghasilkan manfaat. Temuan Dunn, Aknin, dan Norton (2008) turut menunjukkan bahwa penggunaan uang untuk kepentingan orang lain dapat memberikan kebahagiaan lebih besar daripada membelanjakannya hanya untuk diri sendiri.
Setelah membahas perilaku individu dan pasar, video mengalihkan sorotan kepada penguasa. Salah satu praktik yang dikritik ialah mengurangi kandungan logam berharga dalam mata uang tanpa kejelasan kepada masyarakat. Islahi (2001) menunjukkan bahwa Al-Ghazali memahami dampak buruk pemalsuan dan penurunan mutu mata uang karena kerugiannya menyebar kepada banyak orang. Masyarakat menerima uang dengan nilai yang tampak sama, padahal kualitas dan daya tukarnya telah berkurang. Video menghubungkan praktik tersebut dengan inflasi dan hilangnya kepercayaan terhadap mata uang modern. Perbandingan ini dapat diterima sebagai analogi, tetapi pernyataan bahwa Al-Ghazali telah “memprediksi inflasi modern” perlu dipahami sebagai interpretasi narator, bukan teori inflasi yang dirumuskan langsung oleh Al-Ghazali.
Seluruh rangkaian tersebut akhirnya bermuara pada psikologi manusia. Video menyatakan bahwa manusia menimbun karena takut, berspekulasi karena mengharapkan keuntungan, dan menipu ketika merasa konsekuensinya dapat dihindari. Dalam psikologi perilaku, uang dapat berfungsi sebagai generalized conditioned reinforcer karena dapat ditukarkan dengan berbagai bentuk penghargaan dan pemenuhan kebutuhan (Skinner, 1953). Peluang keuntungan mendorong perilaku mendekat, sedangkan ancaman kehilangan mendorong penghindaran. Kahneman dan Tversky (1979) menunjukkan bahwa kerugian umumnya dirasakan lebih kuat daripada keuntungan dengan nilai yang setara. Ketakutan kehilangan uang karena itu dapat mendorong kehati-hatian, tetapi juga dapat berkembang menjadi penimbunan, penghindaran berlebihan, atau keputusan finansial yang tidak rasional.
Pada bagian akhirnya, video menghubungkan pemikiran Al-Ghazali dengan ketimpangan, spekulasi aset, inflasi, utang, dan menurunnya kepercayaan terhadap institusi. Pesan utamanya kuat: teknologi keuangan berubah, tetapi kerentanan psikologis manusia terhadap ketakutan, keserakahan, dan kekuasaan tetap bertahan. Meski demikian, krisis ekonomi tidak boleh dijelaskan hanya sebagai kegagalan moral individual. Shah, Mullainathan, dan Shafir (2012) membuktikan bahwa kelangkaan nyata dapat menyempitkan perhatian dan mendorong keputusan jangka pendek yang merugikan. Pemikiran Al-Ghazali menjadi paling relevan ketika dibaca secara seimbang: manusia membutuhkan kecakapan mengelola uang, sistem ekonomi yang adil, serta kompas moral agar kekayaan tetap menjadi sarana kehidupan dan tidak berubah menjadi kekuatan yang menguasai manusia.
Daftar Pustaka
Akerlof, G. A. (1970). The market for “lemons”: Quality uncertainty and the market mechanism. The Quarterly Journal of Economics, 84(3), 488–500. https://doi.org/10.2307/1879431
Dunn, E. W., Aknin, L. B., & Norton, M. I. (2008). Spending money on others promotes happiness. Science, 319(5870), 1687–1688. https://doi.org/10.1126/science.1150952
Financial Historian. (2025). Al-Ghazali: The Thinker Who Linked Money to Morality [Video]. YouTube. Versi teks video.
Ghazanfar, S. M., & Islahi, A. A. (2011). Economic Thought of Al-Ghazali. King Abdulaziz University Press.
Islahi, A. A. (2001). An Analytical Study of Al-Ghazali’s Thought on Money and Interest. Islamic Economics Research Centre, King Abdulaziz University.
Kahneman, D., & Tversky, A. (1979). Prospect theory: An analysis of decision under risk. Econometrica, 47(2), 263–291. https://doi.org/10.2307/1914185
Shah, A. K., Mullainathan, S., & Shafir, E. (2012). Some consequences of having too little. Science, 338(6107), 682–685. https://doi.org/10.1126/science.1222426
Skinner, B. F. (1953). Science and Human Behavior. Macmillan.