Muhammad Fakhruddin Al-Razi, M.Psi Raih Gelar Doktor Lewat Publikasi Jurnal, Dosen Psikologi Unesa Tunjukkan Kualitas Tenaga Pendidik
Surabaya - Menempuh pendidikan hingga jenjang doktor tentu
bukan perjalanan yang mudah. Hal itu disampaikan oleh Muhammad Fakhruddin
Al-Razi, M.Psi. ,atau akrab disapa Pak Razi, salah satu dosen Fakultas
Psikologi Unesa yang baru saja menyelesaikan studi S3 di Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta. Dalam wawancara yang dilakukan pada Kamis, 7 Mei 2026,
beliau membagikan pengalaman, tantangan, hingga motivasi selama menjalani studi
S3.
Pak Razi berhasil menyelesaikan pendidikan doktoralnya
melalui jalur publikasi ilmiah internasional bereputasi. Salah satu syarat
kelulusannya dipenuhi melalui publikasi artikel pada jurnal terindeks Scopus.
Menurut beliau, proses tersebut tidaklah mudah karena memerlukan ketelitian,
konsistensi, serta kesiapan menghadapi berbagai tahapan editorial dan revisi
sebelum artikel dapat diterbitkan.
Dalam dunia penelitian, Pak Razi memiliki ketertarikan
terhadap isu kesehatan mental yang dikaji dari sudut pandang keagamaan.
Ketertarikan ini mendorongnya untuk meneliti gagasan-gagasan Jalaluddin Rumi
dan relevansinya dengan kesehatan mental. Menurutnya, perpaduan antara latar
belakang ilmu psikologi dan ketertarikan pribadinya terhadap kajian agama menjadi
alasan kuat untuk menggali dimensi psikologis dari tokoh Muslim tersebut.
Pak Razi juga menekankan perlunya keseimbangan antara aspek
biopsikologis dan spiritualitas dalam kehidupan mahasiswa. Ia berpandangan
bahwa kesehatan manusia harus dilihat secara menyeluruh, meliputi sisi
biologis, psikologis, sosial, dan spiritual. Oleh sebab itu, mahasiswa tidak
cukup hanya mengejar prestasi akademik atau aktif berorganisasi, tetapi juga
perlu menjaga kesehatan jasmani serta membangun hubungan spiritual yang baik
dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan alam.
Pak Razi menjelaskan bahwa spiritualitas memiliki
keterkaitan erat dengan kondisi psikologis seseorang, karena di dalamnya
terkandung unsur makna hidup dan ketenangan jiwa. Meski begitu, ia mengingatkan
bahwa spiritualitas tidak secara otomatis menjamin kesehatan psikologis yang
baik dalam segala kondisi. Pada situasi tertentu, praktik keagamaan yang
berlebihan justru dapat muncul beriringan dengan kondisi psikologis yang kurang
sehat, sehingga pengendalian diri dan pemahaman yang proporsional tetap diperlukan.
Terkait peluang mahasiswa S1 Psikologi UNESA untuk menembus
jurnal internasional bereputasi, Pak Razi menilai hal itu bukanlah sesuatu yang
tidak mungkin dicapai. Namun, ia mengingatkan bahwa proses tersebut membutuhkan
perjalanan yang panjang, konsistensi, serta kerja keras yang sungguh-sungguh.
Ia menyarankan agar mahasiswa menetapkan target yang realistis dengan terlebih
dahulu memulai dari publikasi di jurnal nasional sebelum merambah ke tingkat
internasional.
Di balik kekonsistenannya dalam menulis karya ilmiah, Pak
Razi mengungkapkan bahwa motivasi awalnya justru berasal dari kegemarannya
menulis karya nonakademik, seperti cerpen dan puisi. Ketika menjalani studi S3,
kegiatan menulis menjadi sarana baginya untuk menemukan makna dalam kehidupan.
Ia percaya bahwa menulis adalah proses yang harus dinikmati agar hidup tidak
terasa datar dan kehilangan arah.
Sebagai penutup, Pak Razi membagikan prinsip hidup yang ia
petik dari pemikiran Jalaluddin Rumi, yaitu pentingnya kesadaran penuh
atau mindfulness dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, seseorang sebaiknya memusatkan perhatian pada apa yang sedang
dihadapi saat ini, tanpa terlalu terbebani oleh penyesalan atas masa lalu
maupun kekhawatiran tentang masa depan. Prinsip ini ia gambarkan sebagai sikap
"mengalir," yakni menghayati dan menjalani hidup sepenuhnya di saat
ini.