Selalu Terhubung, tetapi Tetap Kesepian: Apa yang Hilang dari Relasi Kita?
Seseorang dapat memiliki ribuan pengikut, mengikuti banyak grup percakapan, dan menerima puluhan notifikasi setiap hari, tetapi tetap merasa tidak mempunyai tempat untuk bercerita. Inilah paradoks kehidupan modern: teknologi memperbesar jumlah koneksi tanpa selalu memperdalam kedekatan. Kesepian tidak selalu tampak dari luar. Seseorang yang aktif, produktif, dan dikelilingi banyak orang tetap dapat merasa tidak dipahami, tidak dibutuhkan, atau tidak sungguh-sungguh menjadi bagian dari lingkungannya.
Kesepian berbeda dengan kesendirian dan isolasi sosial. Kesendirian dapat menjadi pilihan yang menyenangkan, sedangkan isolasi sosial merujuk pada minimnya hubungan atau interaksi secara objektif. Kesepian merupakan perasaan menyakitkan yang muncul ketika hubungan yang dimiliki tidak sesuai dengan hubungan yang diharapkan. Laporan WHO menunjukkan bahwa sekitar satu dari enam orang di dunia mengalami kesepian, dengan angka sekitar 21 persen pada kelompok remaja. Kesepian juga bukan persoalan emosional yang sepele karena berkaitan dengan depresi, kecemasan, gangguan kesehatan fisik, kesulitan belajar, dan menurunnya kualitas hidup.
Namun, menyalahkan media sosial sebagai satu-satunya penyebab juga terlalu sederhana. Meta-analisis terbaru terhadap 59 penelitian dengan lebih dari 81.000 remaja dan dewasa muda menemukan bahwa lamanya waktu menggunakan media sosial hanya memiliki hubungan yang sangat kecil dengan kesepian. Hubungan yang lebih kuat ditemukan pada penggunaan yang bermasalah—misalnya ketika seseorang kehilangan kendali, terus memeriksa media sosial, atau menggunakannya untuk melarikan diri dari masalah. Karena sebagian besar bukti masih bersifat korelasional, hubungan tersebut mungkin berlangsung dua arah: penggunaan yang bermasalah dapat memperparah kesepian, sementara orang yang kesepian juga dapat semakin bergantung pada media sosial untuk mencari koneksi.
Dalam kehidupan mahasiswa, persoalannya bukan sekadar memiliki teman, melainkan memiliki sense of belonging: perasaan diterima, dihargai, dan menjadi bagian yang berarti dari lingkungan kampus. Meta-analisis Dost (2026) terhadap 56 penelitian dan lebih dari 30.000 mahasiswa menemukan hubungan negatif yang cukup kuat antara rasa memiliki dan kesepian. Kajian van Kessel et al. (2025) juga menunjukkan bahwa rasa memiliki terhadap universitas berkaitan dengan kesejahteraan psikologis dan, dalam tingkat yang lebih kecil, capaian akademik. Dengan demikian, kelas, organisasi mahasiswa, kelompok pertemanan, dan relasi dengan dosen bukan sekadar pelengkap pengalaman kuliah, melainkan bagian dari ekosistem kesehatan psikologis mahasiswa.
Mengurangi kesepian tidak cukup dengan menyuruh seseorang untuk “lebih banyak bergaul”. Yang dibutuhkan adalah hubungan yang aman, timbal balik, dan memungkinkan seseorang hadir sebagai dirinya sendiri. Individu dapat memulainya melalui tindakan sederhana: menyimpan telepon ketika berbicara, menghubungi teman yang mulai menjauh, mengikuti komunitas berdasarkan minat, serta berani mencari bantuan saat kesepian terasa menetap. Kampus juga perlu membangun kelas yang inklusif, pendampingan sebaya, ruang interaksi yang mudah diakses, dan layanan psikologis yang tidak menstigma. Pada akhirnya, manusia tidak hanya membutuhkan jaringan yang luas, tetapi juga pengalaman untuk didengar, dikenali, dan merasa bahwa keberadaannya berarti bagi orang lain.
Daftar Pustaka
Dost, G. (2026). Belongingness and loneliness in higher education: A meta-analysis of pre- and post-pandemic trends. Frontiers in Psychology, 16, 1625957. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2025.1625957
Feng, H. P., Lien, Y. J., Cian, S. Y., Wang, W. Y., Li, Y. T., Chen, C. H., et al. (2026). Exploring the relationship between social media use and loneliness in adolescents and young adults: A systematic review and meta-analysis. Social Psychiatry and Psychiatric Epidemiology. https://doi.org/10.1007/s00127-026-03175-4
van Kessel, G., Ryan, C., Paras, L., Zariff, R. Z., Johnson, N., & Stallman, H. M. (2025). Relationship between university belonging and student outcomes: A systematic review and meta-analysis. The Australian Educational Researcher, 52, 2511–2534. https://doi.org/10.1007/s13384-025-00822-8
World Health Organization. (2025). From loneliness to social connection: Charting a path to healthier societies. WHO Commission on Social Connection.