MINDSET :Keraguan Dibalik Prestasi dan Imposter Syndrome
Mayoritas mahasiswa pasti memiliki keinginan untuk terus berprestasi. Entah itu dalam bidang akademik atau nonakademik. Prestasi, bagi sebagian orang, merupakan hasil nyata dari puncak pengembangan potensi diri seseorang. Bentuk validasi diri terhadap usaha dan upaya yang telah dilakukan sebelumnya.Selain itu, prestasi dapat menjadi pengalaman berharga bagi seseorang di masa yang akan datang.
Tapi apa jadinya jika prestasi yang diraih sedemikian rupa dirasa tidak pernah cukup?. Bahkan saja prestasi yang mustinya membawa dampak positif malah membawa dampak negatif yang tidak diinginkan. Beberapa dari mereka ada yang merasa tidak bangga dengan prestasi yang telah diraih dan merasa prestasi itu bukan hasil dari kemampuan dalam dirinya, melainkan dipengaruhi oleh faktor eksternal.
Fenomena seorang mahasiswa yang tidak merasa bangga terhadap prestasinya ini dikenal sebagai impostor phenomenon. Fenomena ini terjadi ketika muncul perasaan yang kuat bahwa prestasi yang dicapai tidak layak didapatkan oleh diri sendiri, kegagalan dalam menginternalisasi pencapaian, dan keraguan diri yang terus-menerus (Bravata et al., 2019). Sedangkan impostor syndrome adalah fenomena yang terjadi pada seseorang yang merasa bahwa prestasi atau pencapaiannya yang didapatkannya telah menipu orang lain mengenai kemampuan atau kecerdasannya. Impostor syndrome mengacu pada individu yang berhasil sesuai dengan standar eksternal tetapi memiliki ilusi adanya ketidakmampuan pribadi (Clance & Imes, 1978). Dalam situasi ini, seseorang akan selalu ragu terhadap kemampuannya dan tidak pernah siap untuk menghadapi selanjutnya. Orang dengan impostor syndrome tak pernah siap menghadapi tantangan berikutnya dan merasa harus menjadi luar biasa dalam setiap tantangan baru yang dihadapinya (Patzak, Kollmayer, & Schober, 2017). Mereka selalu menghubungkan kesuksesan yang mereka dapatkan hanya berdasarkan keberuntungan daripada kemampuan mereka sendiri.
Lalu, bagaimana cara menghadapinya?
Impostor syndrome tidak bisa hilang begitu saja, tetapi perasaan tersebut dapat dikurangi dengan berbagai cara. Ada beberapa pendekatan yang dapat membantu seseorang menghadapi impostor syndrome ini. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah Cognitive Behavioral Therapy (CBT). Pendekatan ini membantu individu mengenali pola pikir negatif yang membuat mereka merasa tidak mampu atau tidak layak, kemudian mengubahnya menjadi pola pikir yang lebih realistis.
Selain itu, terdapat Acceptance and Commitment Therapy (ACT) yang mengajarkan individu untuk menerima pikiran negatif sebagai bagian dari kehidupan tanpa harus terus melawannya. Dengan begitu, individu tetap dapat bertindak dan berkembang meskipun masih memiliki rasa ragu terhadap diri sendiri.
Pendekatan lain yang juga dapat dilakukan adalah terapi interpersonal. Terapi ini berfokus pada kemampuan seseorang dalam membangun hubungan yang sehat, mengekspresikan perasaan, serta mendapatkan dukungan dari orang lain.
Terdapat pula terapi pengalaman yang membantu individu memahami pengalaman masa lalu yang mungkin menjadi penyebab munculnya impostor syndrome. Dengan memahami akar masalahnya, individu dapat lebih mudah melepaskan perasaan negatif yang selama ini dipendam.
Selain terapi, teknik relaksasi dan mindfulness seperti meditasi, yoga, atau latihan pernapasan juga dapat membantu mengurangi stres dan kecemasan. Teknik ini dapat membuat individu menjadi lebih tenang dan lebih mampu memahami dirinya sendiri.
Impostor syndrome tidak hanya berdampak pada kondisi psikologis seseorang, tetapi juga dapat memengaruhi produktivitas, kepercayaan diri, dan kemampuan individu dalam mengembangkan potensinya. Oleh karena itu, penting untuk menciptakan lingkungan yang lebih suportif agar setiap orang dapat merasa dihargai atas kemampuan yang dimilikinya. Hal ini sejalan dengan tujuan SDGs poin 3, yaitu kehidupan sehat dan sejahtera, khususnya dalam menjaga kesehatan mental dan kesejahteraan individu.
Daftar Pustaka
Nafisaturrisa, A., & Hidayati, I. A. (2023). Impostor syndrome pada mahasiswa peserta Program Kampus Merdeka [Skripsi, Universitas Muhammadiyah Surakarta]. Repository UMS. ums.ac.id
Rohmadani, Z. V. (2020). Impostor syndrome dan
intervensinya. Mental: Jurnal Psikologi, 2(1), 21–32.
doi.org